Cedera patah tulang pada anak merupakan salah satu kasus yang cukup sering terjadi akibat aktivitas fisik yang tinggi, seperti bermain, berlari, atau berolahraga. Meskipun tulang anak lebih lentur dibandingkan tulang orang dewasa, risiko patah tulang tetap ada, terutama bila terjadi benturan atau jatuh dengan keras. Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian khusus karena selain menimbulkan rasa nyeri dan keterbatasan gerak, cedera tulang pada anak juga dapat memengaruhi pertumbuhan tulang di masa depan.
Aktivitas anak yang tinggi memang membuat mereka lebih rentan mengalami cedera, terutama ketika melakukan aktivitas fisik yang berlebihan. Menurut DR. dr. Aryadi Kurniawan, Sp.OT., Subsp.A (K), Spesialis Orthopedi & Traumatologi Pediatric RS Islam Jakarta Cempaka Putih, cedera seperti ini perlu diperhatikan serius karena dapat memengaruhi pertumbuhan tulang anak bila tidak ditangani dengan tepat. “Seorang anak yang mengalami cedera tulang sangat cepat sembuh. Dia akan sembuh, akan hilang sakitnya, akan tetapi dalam posisi yang kurang baik, bengkok, berputar sehingga akan mengakibatkan kepada kisaran gerak sendi yang akan terganggu. Pada akhirnya, hal tersebut akan mengakibatkan penurunan kualitas hidup sang anak.” Jelas dr. Aryadi.
Apa yang Menyebabkan Patah Tulang pada Anak?
Cedera tulang dapat disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari aktivitas ringan hingga kecelakaan yang lebih berat. Beberapa penyebab yang sering dijumpai antara lain:
- Jatuh dari tempat tinggi, seperti dari sepeda, perosotan, atau tempat tidur.
- Benturan keras saat bermain atau berolahraga.
- Trauma langsung seperti tertimpa benda berat.
- Kelemahan tulang akibat kondisi medis tertentu seperti osteoporosis anak atau tulang rapuh (osteogenesis imperfecta).
Gejala yang Perlu Diwaspadai Orang Tua
Membedakan antara keseleo dan patah tulang pada anak memang tidak selalu mudah. “Anak usia 8 – 10 tahun jatuh dan cedera otomatis dia pasti akan menangis dan akan bilang mama/papa sakit. Bahkan dia bisa dengan spesifik menunjukkan lokasi sakitnya. Orang tua juga lebih mudah mengidentifikasi berat, ringan, dan derajat cedera yang terjadi,” jelas dr. Aryadi. Namun, ada beberapa tanda khas yang perlu dikenali:
- Anak mengeluh nyeri tajam setelah jatuh atau terbentur.
- Terjadi bengkak atau memar di area yang terkena.
- Bentuk tulang terlihat tidak normal atau tampak menonjol.
- Anak enggan menggerakkan bagian tubuh yang sakit.
- Kadang terdengar bunyi “krek” saat terjadi cedera.
dr. Aryadi menambahkan “Tantangan muncul ketika orang tua berhadapan dengan anak usia misalnya dibawah 5 tahun. Orang tua tidak bisa mengandalkan kepada komunikasi verbal tapi mengandalkan pada komunikasi non-verbal, yaitu anak biasanya hanya menangis, tapi anak tidak mau menggerakkan anggota gerak badan yang terlibat cedera tersebut.”
Jenis-Jenis Patah Tulang yang Umum Terjadi pada Anak
Tulang anak memiliki struktur yang masih tumbuh sehingga jenis patahnya berbeda dari orang dewasa. Jenis fraktur yang sering terjadi di antaranya:
1. Greenstick fracture:
Tulang retak sebagian seperti ranting muda yang patah tapi tidak sepenuhnya terpisah.
2. Torus (buckle) fracture:
Tulang menekuk tanpa benar-benar patah, sering terjadi di pergelangan tangan.
3. Complete fracture:
Tulang patah total menjadi dua bagian atau lebih.
4. Growth plate fracture (epiphyseal fracture):
Patah pada lempeng pertumbuhan tulang, butuh penanganan hati-hati karena dapat memengaruhi pertumbuhan tulang anak.
Penanganan Medis Patah Tulang pada Anak
Penanganan fraktur anak harus dilakukan oleh dokter spesialis ortopedi anak atau melalui layanan rehabilitasi medik. Proses penanganan biasanya meliputi:
- Pemeriksaan radiologi (X-ray atau MRI) untuk memastikan lokasi dan jenis patah.
- Imobilisasi dengan gips, bidai, atau belat agar tulang menyatu dengan baik.
- Reduksi atau pengembalian posisi tulang bila terjadi pergeseran.
- Operasi (ORIF) untuk fraktur kompleks atau yang mengenai area pertumbuhan tulang.
- Rehabilitasi medik/fisioterapi setelah gips dilepas, guna memulihkan kekuatan otot dan fungsi gerak.
Pesan dr. Aryadi untuk Orang Tua
dr. Aryadi mengingatkan bahwa penanganan cepat dan tepat menjadi kunci utama agar pertumbuhan tulang anak tidak terganggu. Selain itu, pencegahan juga penting dilakukan, di antaranya:
- Awasi anak saat bermain di tempat tinggi.
- Gunakan alat pelindung diri saat berolahraga.
- Berikan asupan kalsium dan vitamin D yang cukup setiap hari.
- Biasakan anak melakukan aktivitas fisik yang aman dan seimbang.
“Kalau hanya memar, biasanya 2 - 3 jam sudah bisa digerakkan. Kalau tetap tidak mau gerak dan bengkak, segera ke RS untuk pemeriksaan rontgen.,” tutup dr. Aryadi.
Layanan Raudhah Orthopedic and Traumatology Center RSIJ Cempaka Putih
Jangan abaikan gejala patah tulang pada anak. Segera lakukan pemeriksaan secara komprehensif ke Raudhah Orthopedic and Traumatology Center RS Islam Jakarta Cempaka Putih. Konsultasi maupun tindakan yang harus dijalani akan ditangani langsung oleh DR. dr. Aryadi Kurniawan, Sp.OT., Subsp.A (K).
Informasi dan pendaftaran: 0812-1349-1516
FAQ Terkait Patah Tulang Pada Anak
1. Apakah patah tulang pada anak bisa sembuh dengan sendirinya?
Tulang anak umumnya memiliki kemampuan penyembuhan yang baik. Namun, patah tulang tetap perlu diperiksa dan ditangani dengan tepat agar tulang menyatu dalam posisi yang sesuai dan tidak mengganggu penampilan dan fungsi anggota tubuh.
2. Apakah patah tulang pada anak dapat mengganggu pertumbuhan tulang?
Sebagian besar patah tulang pada anak dapat sembuh dengan baik. Namun, cedera yang mengenai lempeng pertumbuhan (growth plate) dapat berisiko memengaruhi pertumbuhan tulang. Untuk mengetahui secara pasti, segera lakukan pemeriksaan ke dokter ortopedi anak.
3. Apakah patah tulang pada anak harus selalu menggunakan gips?
Tidak selalu. Penanganan bergantung pada jenis, lokasi, dan tingkat keparahan patah tulang. Dokter dapat merekomendasikan gips, bidai, atau metode imobilisasi lainnya. Pada patah tulang tertentu yang lebih kompleks, tindakan operasi mungkin diperlukan.
4. Berapa lama patah tulang pada anak biasanya sembuh?
Waktu penyembuhan berbeda-beda tergantung usia anak, lokasi dan jenis patah tulang, serta kondisi cedera. Anak umumnya mengalami penyembuhan tulang lebih cepat dibandingkan orang dewasa, tetapi tetap membutuhkan pemantauan dokter.
5. Kapan patah tulang pada anak membutuhkan operasi?
Penentuan perlu atau tidaknya dilakukan operasi hanya dapat dilakukan oleh dokter. Namun, ada beberapa kondisi yang dapat dipertimbangkan, misalnya patah tulang yang bergeser atau tidak stabil, melibatkan sendi, menyebabkan gangguan pada saraf atau pembuluh darah, atau tidak dapat dipertahankan pada posisi yang baik dengan penanganan nonoperatif.
Disclaimer
Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan efektivitas pemeriksaan yang dilakukan secara langsung ke dokter. Sebaiknya segera lakukan pemeriksaan ke dokter melalui fasilitas kesehatan terdekat.