Asam urat dan rematik adalah dua penyakit yang berbeda, meski sama-sama menyerang sendi. Asam urat disebabkan oleh kristal monosodium urat akibat kadar asam urat tinggi dalam darah, dengan nyeri mendadak terutama di jempol kaki, pergelangan kaki, atau lutut. Rematik adalah penyakit autoimun yang menyerang banyak sendi secara simetris, terasa kaku di pagi hari, dan bersifat kronis. Keduanya memerlukan diagnosis dan pengobatan yang berbeda.
Apa itu Asam Urat?
Asam urat merupakan produk sisa dari proses pemecahan purin dalam tubuh yang normalnya dibuang oleh ginjal melalui urine. Masalah muncul ketika produksi asam urat melebihi kapasitas pembuangan ginjal, sehingga kadarnya menumpuk di dalam darah. Kondisi ini dikenal sebagai hiperurisemia. Akibatnya, kristal asam urat yang tajam dapat terbentuk dan mengendap di sendi, jaringan, maupun organ lain, memicu peradangan sekaligus rasa nyeri. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2018, prevalensi penyakit asam urat di Indonesia yang didiagnosis oleh tenaga kesehatan tercatat sebesar 12,9%.
Penyebab Asam Urat
Terkadang tubuh dapat menghasilkan terlalu banyak asam urat atau ginjal mengalami gangguan sehingga mengeluarkan terlalu sedikit asam urat. Ketika ini terjadi, asam urat dapat menumpuk dan membentuk kristal urat tajam seperti jarum di sendi yang menyebabkan rasa sakit, peradangan, dan pembengkakan.
Ada beberapa penyebab yang bisa memicu kondisi tersebut:
1. Faktor genetik
Sebagian orang secara alami memiliki kecenderungan turunan untuk memproduksi asam urat dalam jumlah lebih tinggi dari normal.
2. Konsumsi alkohol
Minuman beralkohol, khususnya bir dan minuman keras, diketahui meningkatkan produksi sekaligus menghambat pembuangan asam urat.
3. Diet tinggi purin
Kebiasaan mengonsumsi jeroan, sarden, dan daging merah secara berlebihan dapat mendorong lonjakan kadar asam urat.
4. Kelebihan berat badan
Obesitas memperberat kerja metabolisme tubuh dan meningkatkan risiko hiperurisemia secara signifikan.
5. Gangguan fungsi ginjal
Ketika ginjal tidak bekerja optimal, kemampuannya menyaring dan membuang limbah, termasuk asam urat, ikut menurun.
6. Penggunaan obat tertentu
- Diuretik: biasanya diresepkan untuk tekanan darah tinggi atau gagal jantung.
- Obat Antihipertensi: merupakan beberapa golongan obat penurun tekanan darah seperti beta-blocker dan ACE inhibitor.
- Aspirin: yang umum digunakan sebagai pengencer darah, terbukti menghambat pembuangan asam urat melalui ginjal.
Gejala Asam Urat
Gejala asam urat biasanya muncul mendadak dan sering terjadi pada malam hari, yang paling umum dirasakan, di antaranya:
- Nyeri sendi yang terjadi tiba-tiba secara akut pada malam, seringkali terjadi pada sendi ibu jari kaki.
- Pembengkakan pada area sendi yang terkena
- Kemerahan di area sendi yang terserang
- Rasa hangat atau panas
Pada 4-12 jam pertama, nyeri yang dirasakan biasanya berada di puncaknya. Setelahnya, intensitas nyeri mulai berkurang, meski tidak jarang berlanjut hingga 10 hari atau lebih. Perlu diwaspadai bahwa meskipun gejala telah mereda, serangan berikutnya berpotensi kembali dalam rentang 6-12 bulan kemudian.
Pada penderita yang sudah mengalami asam urat dalam jangka panjang, peradangan yang terjadi berulang kali dapat merusak struktur sendi secara permanen dan berujung pada kekakuan sendi. Selain itu, penumpukan kristal asam urat di bawah kulit sekitar sendi dapat membentuk benjolan keras yang dikenal sebagai tofus.
Kapan asam urat perlu diwaspadai? Berdasarkan Kemenkes RI nilai normal asam urat pada pria antara 3,4 - 7 mg/dL, sedangkan pada wanita 2,4 - 5,7 mg/dL. Pemeriksaan kadar asam urat darah dianjurkan jika gejala di atas muncul berulang kali.
Pengobatan Asam Urat
Pengobatan penyakit asam urat dilakukan dengan pemberian obat asam urat. Pemberian obat ini bertujuan untuk meringankan gejala dan mencegah terjadinya komplikasi.
1. Obat-obatan
Untuk meredakan gejala akut maupun mengontrol kadar asam urat dalam jangka panjang, dokter umumnya meresepkan dua kelompok obat utama, yaitu obat anti-radang untuk mengatasi peradangan dan nyeri, serta obat penurun kadar asam urat untuk mencegah serangan berulang.
2. Gaya hidup sehat
Di samping pengobatan medis, perubahan gaya hidup memegang peran yang sama pentingnya dalam pengelolaan asam urat. Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain:
- Membatasi konsumsi makanan tinggi purin.
- Mengurangi asupan minuman tinggi gula dan minuman beralkohol yang dapat memicu lonjakan kadar asam urat.
- Memenuhi kebutuhan protein harian dari sumber yang lebih aman, seperti susu rendah lemak
- Berolahraga secara rutin untuk mencapai dan menjaga berat badan ideal.
Kapan Harus ke Dokter
Segera lakukan pemeriksaan ke dokter jika tiba-tiba merasakan nyeri akut di persendian, terlebih jika disertai demam dan rasa panas pada sendi.
Gejala dan keluhan yang terjadi akibat asam urat mirip dengan gejala pada penyakit radang sendi lainnya, seperti pseudogout dan rheumatoid arthritis. Oleh karena itu, pemeriksaan sejak dini sangat dianjurkan agar penyebab nyeri dapat dipastikan dan penanganan yang tepat dapat diberikan secepatnya.
Apa itu Rematik?
Rematik dan Artritis Reumatoid (AR) adalah penyakit autoimun yang menyerang persendian. Kondisi ini menimbulkan peradangan pada sendi serta jaringan di sekitarnya, dan pada beberapa kasus juga dapat mempengaruhi organ lain seperti kulit maupun paru-paru. Gejala umumnya berkembang secara bertahap, dimulai dari nyeri sendi ringan yang sering kali tidak terlalu mengganggu. Namun, dalam hitungan minggu hingga bulan, jumlah sendi yang terkena bisa bertambah dan peradangannya semakin berat.
Peradangan tersebut dapat menyebabkan sendi terasa bengkak, nyeri, dan kaku. Rematik lebih sering dialami oleh perempuan, khususnya usia 40-60 tahun, serta biasanya menyerang sendi yang sama pada kedua sisi tubuh secara simetris. Gejalanya pun kadang menyerupai penyakit lain, seperti osteoarthritis atau polymyalgia rheumatica.
Penyebab Rematik
Penyebab pasti dari rematik belum sepenuhnya diketahui, namun beberapa faktor yang telah diperkirakan berperan:
1. Faktor genetik
Seseorang berisiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa jika mempunyai anggota keluarga penderita rematik. Selain itu, gen tertentu diketahui dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap penyakit ini.
2. Sistem kekebalan tubuh
Rematik merupakan penyakit autoimun yang berarti bahwa tubuh secara keliru mengenali jaringan sendi yang sehat sebagai ancaman. Imun menyerang membran sinovial (lapisan jaringan yang melapisi sendi) menyebabkan peradangan yang dapat merusak tulang, ligamen, dan tendon.
3. Faktor lingkungan
Beberapa lingkungan turut dapat memicu atau memperburuk gejala rematik, termasuk virus ataupun bakteri. Berdasarkan Indonesian Rheumatology Association Kebiasaan merokok juga meningkatkan risiko berkembangnya rematik, terutama pada individu yang sudah memiliki faktor genetik.
4. Hormon
Rematik jauh lebih sering ditemukan pada wanita dibanding pria, yang diduga berkaitan dengan fluktuasi hormon, terutama estrogen. Tidak sedikit wanita yang pertama kali merasakan gejala rematik setelah melewati masa pubertas atau pasca persalinan.
5. Stress
Tekanan fisik maupun emosional yang berkepanjangan dapat mengganggu keseimbangan sistem imun, yang pada akhirnya memperburuk gejala pada penyakit autoimun seperti rematik.
Gejala Rematik
Penderita rematik umumnya mengalami sejumlah keluhan pada sendi, antara lain nyeri, pembengkakan, kemerahan, rasa hangat, serta kekakuan di pagi hari atau setelah sendi lama tidak digerakkan.
Keluhan ini kerap bermula dari sendi di kaki, yang dapat memunculkan gejala seperti:
- Nyeri pada pergelangan kaki saat berjalan di tanjakan
- Nyeri pada tumit dan tulang kering saat menapak di permukaan yang tidak rata
- Perubahan bentuk telapak kaki yang menyulitkan pemakaian sepatu, serta perubahan bentuk pada jari dan kuku kaki
Secara lebih rinci, berikut gejala-gejala utama yang perlu diwaspadai:
1. Nyeri sendi
Nyeri merupakan keluhan paling khas pada rematik, umumnya muncul di pagi hari atau setelah tubuh tidak banyak bergerak dalam waktu lama. Rasa nyeri biasanya dirasakan secara simetris pada kedua sisi tubuh, seperti pada tangan, pergelangan tangan, lutut, dan kaki.
2. Pembengkakan sendi
Sendi yang terkena rematik sering tampak bengkak dan terasa kaku. Kondisi ini dipicu oleh proses peradangan yang berlangsung di sekitar sendi.
3. Kekakuan pagi hari
Salah satu tanda khas rematik adalah kekakuan sendi yang dirasakan saat bangun tidur dan berlangsung lebih dari 1 jam. Kekakuan ini kerap mengganggu aktivitas harian, terutama di awal pagi.
4. Kelelahan
Penderita rematik sering merasakan kelelahan yang tidak proporsional, tubuh terasa lemas dan kehabisan energi meski sudah cukup beristirahat. Kondisi ini merupakan dampak langsung dari proses peradangan kronis yang berlangsung di dalam tubuh.
5. Penurunan rentang gerak
Peradangan yang berlangsung terus-menerus dalam jangka panjang dapat mengurangi fleksibilitas sendi secara bertahap. Akibatnya, aktivitas sehari-hari seperti menggenggam benda atau berjalan bisa terasa semakin sulit seiring berjalannya waktu.
6. Demam ringan dan penurunan berat badan
Beberapa orang dengan rematik juga mengalami demam ringan atau penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan.
Pengobatan Rematik
Pengobatan rematik dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri dan peradangan, sekaligus mencegah kerusakan sendi lebih lanjut.
1. Penanganan mandiri di rumah
Beberapa langkah sederhana dapat dilakukan secara mandiri untuk membantu meringankan gejala, antara lain:
- Membatasi aktivitas berat dan memperbanyak istirahat saat gejala sedang kambuh
- Mengompres area sendi yang nyeri menggunakan es yang dibungkus kain selama sekitar 20 menit
- Menggunakan alas kaki dengan sol khusus untuk mengurangi tekanan pada sendi kaki
- Memperbanyak konsumsi makanan kaya omega-3 seperti ikan salmon dan ikan tuna, serta makanan kaya antioksidan seperti kedelai dan brokoli
- Memanfaatkan bahan herbal yang dapat mendukung penanganan rematik secara alami, seperti kunyit, bawang putih, kayu manis, dan jahe, dalam makanan sehari-hari.
2. Terapi khusus untuk rematik
Selain obat-obatan, dua jenis terapi berikut umumnya direkomendasikan sebagai bagian dari penanganan komprehensif rematik:
- Fisioterapi: berfokus pada peningkatan kekuatan otot dan pemulihan fleksibilitas sendi.
- Terapi okupasi: dirancang untuk membantu penderita beradaptasi dan tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri.
3. Operasi
Operasi merupakan pilihan terakhir ketika kerusakan sendi sudah parah, menyebabkan nyeri kronis yang tak tertahankan. Tindakan operasi akan dipertimbangkan oleh dokter ortopedi sebagai penanganan terakhir.
Kapan Harus ke Dokter?
Bila mengalami keluhan radang sendi seperti yang telah disebutkan di atas selama 3 hari atau lebih, atau merasakan keluhan radang sendi berulang kali dalam 1 bulan, segeralah konsultasikan ke dokter jika sudah menyebabkan perubahan bentuk pada sendi.
Tabel Perbandingan Lengkap: Asam Urat vs Rematik
|
Aspek |
Asam Urat (Gout) |
Rematik (Artritis Reumatoid) |
|
Lokasi Nyeri |
Jempol kaki, pergelangan kaki, lutut, siku, biasanya 1 sendi |
Banyak sendi secara bersamaan (tangan, jari, lutut, bahu), simetris antara kiri-kanan |
|
Kapan Muncul |
Mendadak, sering di malam hari atau dini hari |
Bertahap, berlangsung lama (>6 minggu), memburuk perlahan |
|
Ciri Khas |
Nyeri sangat hebat, sendi merah, bengkak, panas seperti terbakar; serangan datang dan pergi |
Kaku pagi hari >1 jam, lemas, kadang disertai demam ringan; bersifat progresif |
|
Tes Darah |
Kadar asam urat tinggi (>7 mg/dL pria, >6 mg/dL wanita) |
RF (Rheumatoid Factor) positif, Anti-CCP positif, LED & CRP meningkat |
|
Pengobatan |
Allopurinol, Colchicine, NSAID, diet rendah purin |
DMARDs (Methotrexate), NSAID, kortikosteroid, fisioterapi |
|
Penyebab Utama |
Hiperurisemia: penumpukan kristal urat di sendi |
Sistem imun menyerang jaringan sendi sendiri (autoimun) |
Sumber: Pedoman Diagnosis dan Pengelolaan Gout, Kemenkes RI (2020); American College of Rheumatology Guidelines (2022).
Pemeriksaan Nyeri Sendi di Raudhah Eksekutif
Periksa asam urat & konsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Raudhah Eksekutif. Dapatkan diagnosis oleh dokter spesialis penyakit dalam yang tepat dan rencana pengobatan yang sesuai kondisi.
Info dan pendaftaran dapat hubungi:
- BPJS: 0858-5005-0010
- Pendaftaran Asuransi & Tunai: 0812-1349-1516
FAQ Seputar Asam Urat dan Rematik
1. Apakah asam urat dan rematik penyakit yang sama?
Tidak. Meski sama-sama menimbulkan nyeri sendi, keduanya adalah penyakit yang berbeda. Asam urat disebabkan oleh penumpukan kristal urat akibat kadar asam urat tinggi dalam darah, sementara rematik (artritis reumatoid) adalah penyakit autoimun di mana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sendi itu sendiri. Penyebab, pola gejala, dan pengobatannya pun berbeda.
2. Bagaimana cara membedakan asam urat dan rematik tanpa tes darah?
Secara umum, asam urat ditandai dengan nyeri mendadak yang sangat hebat, biasanya hanya pada satu sendi, sering pada jempol kaki, dan kerap muncul di malam hari. Sedangkan rematik berkembang lebih lambat, menyerang banyak sendi sekaligus secara simetris, dan ditandai kekakuan pagi hari yang berlangsung lebih dari 1 jam. Namun, diagnosis pasti tetap memerlukan pemeriksaan oleh dokter.
3. Apakah rematik bisa sembuh total?
Rematik tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, tetapi dengan pengobatan yang tepat dan konsisten, kondisi dapat mencapai remisi, fase di mana gejala mereda secara signifikan atau tidak aktif sama sekali. Berbeda dengan asam urat yang dapat dikontrol lebih efektif melalui perubahan diet dan obat penurun asam urat.
4. Makanan apa saja yang harus dihindari penderita asam urat?
Penderita asam urat perlu membatasi konsumsi makanan tinggi purin seperti jeroan, seafood, dan daging merah, serta minuman beralkohol, terutama bir. Minuman tinggi gula juga perlu dikurangi karena fruktosa dapat meningkatkan produksi asam urat dalam tubuh.
5. Apakah penderita rematik boleh berolahraga?
Ya, olahraga dianjurkan bagi penderita rematik. Aktivitas fisik ringan hingga sedang, seperti berjalan kaki, berenang, atau yoga, dapat membantu mempertahankan fleksibilitas sendi dan kekuatan otot. Namun, olahraga sebaiknya dihindari saat gejala sedang kambuh. Konsultasikan jenis dan intensitas olahraga yang sesuai dengan dokter atau fisioterapis.
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini bertujuan sebagai edukasi kesehatan dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Setiap kondisi kesehatan memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga diagnosis dan penanganan yang tepat sebaiknya dilakukan oleh tenaga medis profesional.